Memilih Kurikulum Sekolah Terbaik untuk Buah Hati

49293267_M

Kerepotan orangtua dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya, sudah dimulai bahkan ketika si anak baru belajar berjalan. Bahkan jauh sebelum dimulainya tahun ajaran baru, banyak orangtua yang sudah sibuk mencari informasi sekolah yang terbaik untuk anak-anak mereka. Terlebih sekarang yang menjadi pertimbangan tidak hanya lokasi, biaya, kredibilitas lembaga pendidikan, namun juga kurikulum sekolah yang diincar.

Di Indonesia, selain kurikulum nasional yang disahkan pemerintah sebagai pedoman bagi sekolah dan pendidik dalam proses belajar-mengajar, banyak juga sekolah yang menerapkan kurikulum internasional. Meskipun menawarkan program pendidikan yang menarik, bukan berarti itu yang dibutuhkan anak Anda. Jadi, sebelum memutuskan sekolah untuk anak kita, sangatlah penting untuk mengetahui jenis kurikulum yang digunakan sekolah tujuan kita tersebut.

Berikut ini kami jelaskan panduan mengenai perbedaan setiap kurikulum sebagai bahan penilaian dalam menentukan piihan sekolah buat anak Anda.

kurikulum sekolah anak

Kurikulum nasional

Apa yang Anda ketahui soal kurikulum nasional? Barangkali salah satu yang kerap terdengar dari berita-berita di media adalah betapa kurikulum ini sering kali berubah. Ganti pemerintahan, berganti pula kurikulumnya. Meski begitu, kurikulum nasional masih menjadi panduan mayoritas sekolah di Indonesia.

Saat ini, kurikulum nasional yang digunakan adalah Kurikulum 2013 tahun 2017. Kurikulum ini merupakan perbaikan atau revisi dari Kurikulum 2013. Pada dasarnya, kedua jenis kurikulum sama-sama menggunakan pendekatan ilmiah dimana pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa dituntut untuk mencari secara aktif bukan hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh tenaga pengajar.

Seperti dapat dilihat pada infografis di bawah, ada lima 6 poin yang bisa dicermati pada kurikulum versi revisi:

0803_Ujian Nasional Berbasis Komputer

Sumber: https://www.kominfo.go.id/content/detail/7414/poin-penting-revisi-kurikulum-2013/0/infografis

Selain itu, kurikulum nasional ini bisa dibilang cukup padat muatan. Ada belasan mata pelajaran yang harus dicerna anak-anak setelah masa prasekolah, mulai dari mata pelajaran agama, bahasa, seni, matematika hingga sains. Setiap akhir semester, siswa akan mendapat rapor sebagai laporan hasil belajar selama satu semester. Yang terbaik di kelas akan mendapat rangking. Sebaliknya siswa yang akumulasi nilainya di bawah rata-rata kelas atau persentase kehadiran di ambang batas bawah, saat kenaikan kelas terpaksa harus tinggal kelas. Pada akhir pendidikan, mereka harus menghadapi Ujian Nasional (UN) yang masih menjadi penentu kelulusan dan tiket untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya.

 

Kurikulum ini umumnya diterapkan di Sekolah Negeri, dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas. Ketika seorang murid dari sekolah swasta yang tidak menerapkan kurikulum nasional ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri, maka lazimnya ia harus lulus Ujian Nasional untuk dapat diterima di sekolah yang dituju.

Kurikulum nasional plus

Sekolah yang menggunakan kurikulum nasional plus yang diakui berarti telah mendapatkan akreditasi dari Association of National Plus Schools (ANPS). Seperti disebut dalam situs Parenting, sekolah ini menggunakan 100% kurikulum nasional, dengan nilai ‘plus’ yang berbeda-beda pada setiap sekolah. Misalnya, dengan menerapkan dua bahasa pengantar; Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sebagian sekolah bahkan mengajarkan bahasa asing lainnya seperti Mandarin. Selain itu, ada juga sekolah nasional plus yang mengombinasikan antara kurikulum nasional dan kurikulum internasional. Nantinya, siswa sekolah akan mengikuti dua kali ujian yaitu ujian nasional dan ujian berstandar internasional.

Baca Juga: 5 Kiat Memilih Asuransi Pendidikan untuk Anak

Ujian berstandar internasional ini membuat murid yang lulus dapat melanjutkan sekolah ke luar negeri, yang menggunakan sertifikat yang sama. Misal, IB atau Cambridge (lihat point di bawah).

Berbeda dengan sekolah yang berkurikulum nasional saja, dalam proses belajar-mengajar di sekolah ini lebih banyak praktik dan demonstrasi demi memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengeksplorasi kemampuan mereka. Tidak sekadar menghapal tapi juga lebih memahami dan bisa mengembangkan kreativitas lain yang bersifat nonakademik. Perhatian guru pun lebih merata karena jumlah siswanya yang tidak terlampau banyak, sekitar 20-25 siswa per kelas yang ditangani dua guru.

Cambridge International General Certificate for Secondary Education (IGCSE)

Ada ribuan sekolah yang tersebar di 160 negara yang menggunakan kurikulum pendidikan tertua di dunia ini. Memudahkan anak-anak kita yang berencana melanjutkan sekolah ke luar negeri. Kurikulumnya pun terasa lebih menyenangkan, jumlah mata pelajaran tidak sebanyak kurikulum nasional.

kurikulum sekolah anak

Pastikan, anak-anak kita sudah bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris yang menjadi bahasa pengantar di sekolah berkurikulum Cambridge. Seperti disebutkan di situs resminya kurikulum ini menekankan pada mata pelajaran matematika dan science, dengan bahasa pengantar Inggris, baik itu sebagai bahasa native atau bahasa kedua.

Materi mata pelajaran dipilih dengan cermat sehingga tidak membosankan, malah membuat anak-anak semakin tertarik untuk belajar. Pada bidang matematika dan sains, kurikulum Cambridge menyediakan rumus-rumus dasar dan mengizinkan siswa menggunakan kalkulator dalam berhitung, agar sisawa lebih fokus untuk belajar pemecahan masalah, daya nalar, logika dan analisa. Sehingga pelajaran matematika bukan semata diukur dari kemampuan berhitung.

Kurikulum ini mendorong siswa untuk berani menyatakan pendapat dan beradu argumentasi ketika mendiskusikan suatu masalah.

International Baccalaureate (IB)

Kurikulum yang baru berusia kurang dari 10 tahun ini menekankan pada keterampilan analitis siswa. Membuat laporan, esai dan melakukan riset menjadi kegiatan rutin anak-anak yang belajar di sekolah berkurikulum IB. Menariknya, kurikulum ini tidak membebani anak-anak dengan buku pelajaran. Materi pelajaran bisa didapatkan dari banyak sumber, seperti internet, koran atau buku. Dengan kurikulum ini anak dilatih untuk selalu berpikir kreatif dan mengungkapan pendapatnya. Agak menyulitkan bagi anak yang memiliki keterbatasan bahasa dan berorientasi pada akademis.

Seperti tercantum dalam situs resminya, program IB ini menerapkan 3 program, yakni Primary Years Program (PYP) untuk anak usia 3 sampai 12 tahun, Middle Years Program (MYP) untuk anak usia 11-16 tahun, serta Diploma Program untuk anak usia 16 hingga 19 tahun.

Jika kita menyekolahkan anak di sekolah berkurikulum IB sejak sekolah dasar, sebaiknya terus dilanjutkan hingga SMA. Karena anak akan mengalami kesulitan jika pindah ke sekolah dengan kurikulum yang berbeda. Perhatikan juga soal biaya, karena biasanya sekolah yang menerapkan sistem IB memiliki biaya yang mahal.

Montessori

Metode yang berdasar pada teori perkembangan anak ini biasanya diterapkan pada pendidikan prasekolah dan sekolah dasar, walaupun ada juga sekolah yang menggunakan metode ini hingga jenjang pendidikan menengah.

Seperti tercantum dalam situs resminya, kurikulum program sekolah Montessori difokuskan pada lima hal, yaitu praktik kehidupan (melakukan kegiatan sehari-hari yang melibatkan keterampilan dan kemandirian); pendidikan kesadaran sensori (melatih kepekaan dengan menggunakan lima indera); seni berbahasa (mendorong anak-anak untuk mengutarakan pendapatnya dengan mengekspresikan diri mereka secara verbal); matematika dan geometri (belajar tentang angka menggunakan tangan dan alat); budaya (meliputi beberapa di antaranya geografi, sejarah, musik, sains, dan seni).

Baca Juga: 4 Cara Ajarkan Anak Konsep Bahagia

Melihat banyaknya aspek mental yang diterapkan di sistem ini, bisa dibilang kurikulum ini mempersiapkan anak di sekolah sebenarnya, yaitu kehidupan.

Selama jam belajar guru berperan sebagai pengamat dan pembimbing yang mengarahkan, mengawasi dan mengamati aktivitas anak-anak. Yang menarik, alat peraga dan permainan di sekolah Montessori dipesan khusus dari Malaysia atau Italia sesuai standar yang sudah ditentukan Montessori. Tidak heran jika biaya pendidikannya terbilang mahal.

Selain kurikulum, hal penting lain yang harus kita persiapkan dengan matang adalah kebutuhan akan dana pendidikan si buah hati.  Saat ini, Astra Life hadir dengan program AVA iSmart yang akan memberikan kita ketenangan pikiran dengan perlindungan menyeluruh bagi anda dan si buah hati.  Manfaat tambahan pembebasan premi juga disediakan untuk memastikan persiapan dana pendidikan tetap terjaga walau apapun yang terjadi kepada kita.

Jadi, sekolah dengan kurikulum manapun yang akan Anda pilih, pastikan bahwa kurikulum tersebut sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan anak.  Namun bukan hanya itu saja, pastikan pula kebutuhan akan dana pendidikannya sudah tersedia pada saatnya nanti.

Baca artikel keluarga lainnya di sini.




« | »
Read previous post:
michael
Pengabdian Dokter Spesialis Gelandangan Michael Leksodimulyo

Sekitar tahun 2009, karier Michael Leksodimulyo terbilang sukses. Posisinya Wakil Direktur Rumah Sakit Adi Husada Undaan di Surabaya, Jawa Timur....

Close