Agar Hubungan Serasi, Hindari Kesalahan Ini dalam Mengatur Keuangan

Kesalahan Pasangan Mengatur Keuangan

Sudah menjadi rahasia umum, masalah finasial merupakan penyebab perceraian tertinggi di berbagai negara. Lembaga perencana keuangan Jouska Consulting Agency menyebutkan, lebih dari 85% perceraian pada masyarakat kita dipicu oleh masalah keuangan. Artikel Independent pada Januari 2018 mengutip survei yang dilakukan oleh kantor hukum Slater and Gordon menunjukkan bahwa lebih dari 33% responden menyatakan kekhawatiran seputar uang menjadi penyebab perceraian. Survei ini dilakukan terhadap 2.000 warga Inggris.

Karenanya, mengatur keuangan menjadi salah satu kunci keserasian hubungan suami istri. Salah mengatur finansial keluarga bisa berujung pada hubungan yang kurang harmonis dengan pasangan. Agar hubungan langgeng, hindari kesalahan ini ketika mengatur keuangan dengan pasangan.

1. Tabu bicara uang dan rencana keuangan dengan pasangan

Sepasang suami istri tidak perlu merasa tabu untuk membahas soal keuangan dengan pasangan, seperti jumlah penghasilan, utang, aset, pengeluaran rutin dan rencana keuangan. Dengan membahas keuangan sebelum menikah, diharapkan pasangan memiliki tujuan keuangan yang sama dan sepakat untuk berusaha mencapainya. Ketika sudah menikah, pasangan suami istri juga perlu terbuka soal pengeluaran rumah tangga dan pengeluaran pribadi. Jangan sampai, suami atau istri protes karena Anda belanja tanpa sepengetahuannya.

Hal yang juga patut dibicarakan oleh pasangan ialah visi dan rencana keuangan dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dengan mendiskusikan visi bersama, pasangan dapat mengatur keuangan untuk mencapai tujuan tersebut.

2. Tidak paham tentang harta bersama

Uang suami adalah uang istri, uang istri adalah uang istri – anggapan ini cukup familiar di telinga kita, bukan? Apakah betul seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menengok Undang-undang Perkawinan No.1/1974 yang mengatur bahwa semua harta yang didapat selama pernikahan adalah harta bersama. Sementara harta sebelum pernikahan seperti hibah dan warisan, bukanlah harta bersama, kecuali disepakati dalam perjanjian terpisah. Jadi jelas, rela-tidak rela, setiap harta yang diperoleh setelah menikah merupakan harta bersama tanpa mempedulikan siapa yang memiliki penghasilan lebih tinggi. “Keterikatan finansial itu adalah konsekuensi dari keterikatan secara legal,” tulis Jouska dalam akun media sosialnya.

Baca juga: Kenali Perbedaan Perhitungan Pajak Sebelum dan Setelah Menikah

Manfaat lain dengan memiliki penyatuan harta ialah, masing-masing suami istri dapat menekan ego dan fokus pada visi atau rencana keuangan bersama. Jika gaji istri lebih tinggi, atau gaji suami lebih tinggi, tidak menyebabkan salah satu dari pasangan merasa berhak menguasai yang lain karena harta telah disatukan.

Dengan konsep harta bersama, maka pencatatan aset seharusnya tak lagi menjadi masalah di antara pasangan. Ada pasangan yang mencatat aset rumah atas nama suami, apartemen dan kendaraan atas nama istri, kemudian masing-masing pasangan merasa paling berkuasa. Menurut Jouska, ini salah kaprah. “Mau pakai atas nama siapapun, selama harta tersebut diperoleh dalam pernikahan, maka itu menjadi aset bersama,” tulis Jouska.

3. Tidak punya rekening bersama

Harta bersama di atas kemudian disatukan dalam rekening bersama. Jouska merekomendasikan pasangan untuk hanya memiliki satu rekening bersama agar efektif. Jika suami dan istri tetap memiliki rekening pribadi di samping rekening bersama, maka pasangan perlu berdiskusi mengenai berapa jumlah dana yang boleh disimpan di rekening pribadi dan berapa dana yang wajib disetor ke rekening bersama. Dana yang masuk ke rekening bersama ini adalah gaji, penghasilan dari bisnis, bonus, dividen, penghasilan dari pekerjaan sampingan, termasuk uang atau warisan dari orangtua.

Menurut Jouska, pemilihan bank untuk rekening bersama ini bisa disesuaikan dengan profil keuangan pasangan. Misalnya, jika pasangan suami istri merupakan pengusaha usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sebaiknya pilih bank yang memiliki kredit bunga rendah untuk pengusaha UMKM. Jika pasangan suami istri merupakan pekerja lepas, maka cari bank yang mudah memberikan kredit untuk pekerja lepas.

Mengapa harus memiliki rekening bersama? Jouska menuliskan, memiliki rekening bersama akan memungkinkan pasangan untuk mengakses rekening tersebut. Sehingga, ini memudahkan audit dengan cara mencetak rekening koran. Jadi, suami istri tidak perlu mencatat pengeluaran secara manual. Utamakan bertransaksi secara cashless ketimbang tunai dan mintalah layanan notifikasi kepada bank untuk aliran uang keluar dan masuk rekening. “Siapa yang boros, ketahuan. Kalau pengeluaran keluarga membengkak, ketahuan. Kalau duit keluarga menipis, ketahuan. Kalau ada yang selingkuh, ketahuan,” ulas Jouska.

Jika Anda pengusaha, maka Anda perlu memisahkan rekening usaha dengan rekening keluarga. Sehingga, ketika usaha Anda terpuruk, hal ini tidak menyeret keuangan keluarga.

4. Tidak paham mengenai utang bersama

Selain memiliki harta dan rekening bersama, setiap pasangan juga menanggung utang bersama. Jika suami memiliki utang, berarti istri ikut menanggungnya. Perlunya pemahaman mengenai utang bersama ini juga bermanfaat ketika pasangan suami istri mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Karena biasanya, bank akan mengecek penghasilan pasangan dan dapat menerapkan prinsip joint-income yakni gabungan pendapatan suami dan istri. Dalam beberapa kasus, bank juga akan mengecek status kredit pasangan di Bank Indonesia untuk mengelola risiko. Karenanya, pasangan yang sehat akan mengontrol suami atau istrinya dalam mengakses utang.

Baca juga: Bicara Keuangan dengan Pasangan Tanpa Tarik Urat

Masih terkait dengan kemudahan audit, ada baiknya pasangan suami istri memakai kartu kredit bersama. Tidak masalah jika kartu kredit bersama ini dipakai untuk keperluan pribadi seperti membeli make up, tas, alat golf, atau biaya fitness. Dengan memiliki kartu kredit bersama, suami istri jadi mudah mengaudit pengeluaran pasangan, tahu perilaku finansial pasangan, dan dapat berdiskusi mengenai hal itu. Jouska juga merekomendasikan pasangan suami istri untuk hanya memiliki satu kartu kredit bersama agar lebih efektif dalam hal hemat biaya administrasi dan pembukuan tagihan yang ringkas.

5. Membeli properti secara kredit lebih dari satu

Ada baiknya pasangan suami istri membeli properti dengan kredit setelah mempertimbangkan imbal balik investasi atau return on investment (ROI) yang baik. Jangan sampai pasangan membeli banyak properti dengan kredit, namun ROI masing-masing aset tersebut tidak prospektif, karena misalnya lokasi tidak strategis sehingga sulit dijual kembali.

Jika Anda ingin hubungan yang harmonis dengan suami atau istri, yang Anda butuhkan adalah komunikasi, termasuk komunikasi seputar perencanaan keuangan. Dengan perencanaan keuangan, Anda dan pasangan dapat menentukan target finansial yang hendak dicapai serta strategi untuk mewujudkannya. Tak perlu tabu membicarakan hal keuangan bersama pasangan karena ini menjadi kunci agar hubungan Anda langgeng. #AyoLoveLife dan rencanakan keuangan bersama pasangan Anda.

Related Posts

Mengembangkan Bisnis Melalui Instagram

Sejak kemunculan media sosial, peluang untuk menjalankan bisnis lebih terbuka lebar. Hal ini terutama dirasakan oleh par...

Hai Milenial! Hindari 6 Hal ini Agar sukses di Dunia Kerja!

Bekerja dan menjalani sebuah karir bisa menjadi pilihan yang menentukan jalan hidup seseorang. Karenanya, memilih dan me...

Atur Keuangan Sejak Dini Jika Ingin Anak Kuliah di Luar Negeri

Mengirim anak kuliah ke luar negeri menjadi pilihan bagi beberapa orangtua agar anak dapat bersaing secara global. Namun...




« | »
Read previous post:
Aplikasi Olahraga
Aplikasi Olahraga, Benar Membantu atau Tidak?

Saat membuka App Store atau Google Play Store, Anda akan dengan mudah menemukan aplikasi olahraga. Ada banyak pilihan tersedia, mulai...

Close