Jangan Mau Jadi Buzzer Gratisan Bagi Teroris

Pray for Surabaya

Surabaya, 13 Mei 2018, pagi ini saat Fani sedang berada di kamar mendengar suara keras dari luar rumah. Tak lama ia merasakan getaran yang sangat kuat seakan rumahnya akan rubuh. Warga Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya ini pun bergegas ke luar rumah. Ia tak menyangka telah terjadi ledakan bom di gereja yang terletak dekat dari rumahnya.

Ia melihat orang-orang berlari ke arah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela yang berada tidak jauh dari rumahnya. Di sekitar gereja ia melihat serpihan menyerupai potongan tubuh manusia. Tidak lama kemudian beberapa foto yang menyerupai potongan tubuh manusia di sekitar gereja pun viral di media sosial. Foto-foto ini menambah video korban ledakan bom Surabaya yang juga ramai beredar di berbagai media sosial.

Keadaan makin diperburuk dengan banyaknya berita yang tersebar di sosial media mengenai titik-titik bom di Surabaya ini, padahal belum ada berita resmi dari pihak terkait mengenai hal tersebut. Diduga ada sekitar 3 gereja di Surabaya yang menjadi lokasi peledakan bom. Berita-berita itu tentu saja dapat menyebarkan dengan cepat rasa takut kepada masyarakat Surabaya.

Lalu bagaimana kita menyikapi hal ini?

Stop sebar berita yang belum/ tidak terkonfirmasi

Alasannya sederhana, dengan melakukan hal ini, secara tidak sadar, kita telah menjadi ‘juru bicara’ sang teroris. Karena kita ikut menyebarkan ketakutan tersebut.

Jika Anda menerima berita ini, sebaiknya crosscheck terlebih dahulu. Minimal cek di media-media yang terpercaya. Jika belum ada berita atau pernyataan resmi dari pihak kepolisian atau pihak terkait lainnya, sebaiknya abaikan.

Jika berita media masih berjudul ‘diduga’, jangan juga langsung menyebarkannya. Karena pihak media pun belum dapat konfirmasi mengenai hal tersebut. Lebih baik sabar dulu hingga pernyataan resminya keluar, baru kita membaginya ke sosial media.

photo_2016-01-14_17-30-44

Jangan pernah pula menyebarkan berita-berita di sosial media tanpa sumber yang jelas. Menyebarkan spekulasi pribadi tanpa dasar yang jelas hanya akan menambah ketakutan di masyarakat.

Hal lain yang sebaiknya tidak kita lakukan adalah, menyebarkan foto-foto korban dengan alasan apapun. Kita harus menghormati mereka juga keluarga korban. Berempatilah sedikit, bagaimana perasaan Anda jika ada di posisi mereka?

Jika ditarik ke arah lebih jauh lagi, menyebarkan berita hoax atau yang belum terkonfirmasi, apalagi dengan membuat hashtag tertentu lalu menjadikannya trending topik seluruh dunia di sosial media, akan menjadi pisau dua mata. Di satu sisi, dunia (mungkin) akan bersimpati, di sisi lainnya, ini juga membuat Indonesia terlihat ‘lemah’ di mata dunia. Berita mengesankan bahwa Indonesia sedang berada di bawah ancaman. Risiko jangka panjang, kerjasama di bidang ekonomi dan politik dengan negara lain bisa menjadi terganggu.

Oleh karena itu, mulailah bersikap bijak, terutama dalam hal bersosial media. Yang penting bukanlah menjadi yang pertama (menyebar berita) tapi menjadi orang yang menyebarkan hal yang benar.

Bom Surabaya

Bagi semua orang yang menjadi korban aksi terorisme, kami berharap diberi kekuatan dan keberanian untuk kembali bangkit dari petaka ini. Kami segenap tim ilovelife.co.id menyampaikan rasa duka yang mendalam dan mengutuk bentuk terorisme apapun, #PrayforSurabaya.

Tak ada salahnya untuk merasa takut. Tapi lebih baik menyebarkan keberanian untuk terus mencintai hidup. Mari perangi segala bentuk terorisme!




« | »
Read previous post:
yusuf adirima mantan teroris
Yusuf Adirima, Mantan Teroris yang Berubah dari Berani Mati Menjadi Berani Hidup

Di sebuah dapur rumah makan di tengah Kota Solo, Jawa Tengah, seorang laki-laki berperawakan kecil sibuk memeriksa aneka bahan mentah...

Close