Tantangan untuk Generasi Sandwich, Melakukan Perencanaan Keuangan yang Baik antara Orangtua, Keluarga, dan Diri Sendiri

Generasi Sandwich

Generasi sandwich merupakan sebutan bagi mereka yang merupakan breadwinner atau tumpuan hidup bagi generasi di bawah yakni anak, dan generasi di atas yakni orangtua. Dalam kondisi ini, dipastikan anak belum memasuki usia produktif, sementara orangtua sudah memasuki usia pensiun atau tidak produktif.

Rebekah Barsch, wakil presiden direktur lembaga perencana keuangan Northwestern Mutual seperti dikutip US News beberapa waktu silam mengatakan, seseorang yang merupakan generasi sandwich terpaksa menanggung berbagai hal yang berpotensi mengancam masa depannya. Dalam kondisi tertentu, mereka harus memotong jam kerja atau menguras tabungan demi merawat orangtua yang sakit. Di waktu bersamaan, mereka juga dituntut untuk mencetak performa bagus di kantor, karena umumnya mereka juga telah memasuki level manajerial di perusahaan.

Merawat orangtua merupakan wujud cinta dan bakti anak kepada orangtua terbaik dan pantas diberikan oleh seorang anak kepada orangtua. Namun, jika peran merawat orangtua ini tidak dikelola dengan baik, ini dapat mengantarkan para generasi sandwich pada tingkat stres yang tinggi. Nah, agar tidak stres, seorang generasi sandwich dapat mengatur keuangan dengan enam tips berikut.

1. Komunikasikan dengan orangtua kemampuan keuangan

Sebagai seorang generasi sandwich, anda harus terbuka kepada orangtua bahwa Anda hanya mampu membiayai beberapa pos tertentu. Dengan berkomunikasi, diharapkan Anda dan orangtua dapat sepakat dalam mengerem biaya tersier seperti jalan-jalan ke mal. “Jangan sampai kita menanggung biaya orangtua tapi dengan berutang, akhirnya itu memberatkan diri sendiri. Setiap perubahan perlu dikomunikasikan dan kita harus menyesuaikan dengan kondisi tersebut,” kata Tejasari Asad, direktur Tatadana Consulting kepada tim ilovelife, Mei 2018.

Baca juga: Ingin Punya Aset Rp3 M di Usia 30 Tahun? Bisa Kok, Begini Caranya

2. Lakukan annual checkup dan tentukan prioritas

Artikel US News memaparkan, kita perlu melakukan annual checkup terhadap kondisi keuangan untuk mengetahui kondisi “kesehatan” kantong kita dan langkah apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Dengan mengetahui kondisi keuangan, Anda bisa mengetahui pos keuangan yang membutuhkan bujet lebih atau pos keuangan yang masih bisa direm. Karenanya, langkah ini juga dibarengi dengan menentukan skala prioritas.

Misalnya saat ini anak Anda masih di bawah lima tahun dan orangtua sudah memasuki usia senja. Artinya, Anda masih memiliki waktu lebih dari 10 tahun untuk menabung biaya kuliah. Sementara, orangtua yang memasuki usia senja biasanya kerap jatuh sakit. Maka yang bisa Anda prioritaskan saat ini ialah dana kesehatan untuk orangtua.

3. Susun cash flow bulanan dan tahunan

Setelah melakukan annual financial checkup, kini saatnya Anda menyusun bujet bulanan dan bujet tahunan dalam periode setahun ke depan. Menurut Tejasari, pos-pos keuangan umum yang perlu disusun ialah cicilan utang, tabungan, pengeluaran rutin keluarga, dan pengeluaran pribadi. Seperti diketahui, selain biaya bulanan yang rutin dikeluarkan setiap bulan, ada pula biaya tahunan yang datang setahun sekali seperti biaya hari raya, perpanjangan STNK, sampai biaya renovasi. Pastikan Anda menyusunnya dan usahakan untuk berpegang pada panduan ini agar pengeluaran Anda tidak membengkak.

4. Siapkan asuransi

Untuk memperkecil risiko finansial jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan di masa mendatang, Anda bisa melengkapi diri dengan asuransi jiwa yang menyediakan uang pertanggungan (UP). UP ini dapat digunakan sebagai pengganti penghasilan bagi keluarga yang ditinggalkan jika tertanggung tutup usia.

Jangan lupa pula untuk melindungi orangtua dengan asuransi penyakit kritis sebelum memasuki usia lanjut. Biasanya, asuransi penyakit kritis memiliki batas usia kepesertaan maksimal 59 tahun dan hanya melindungi seseorang hingga maksimal 60 tahun. Semakin tua usia seseorang ketika mengikuti asuransi penyakit kritis, semakin besar pula kemungkinan ditolak karena telah terdeteksi penyakit. Kalaupun diterima, premi yang ditawarkan akan lebih mahal. Jadi, Anda bisa melindungi orangtua dengan asuransi penyakit kritis sebelum terlambat. Khusus orangtua yang sudah lanjut usia namun belum memiliki asuransi swasta yang melindungi penyakit kritis, Anda bisa melindungi mereka dengan asuransi BPJS.

Sementara untuk proteksi kesehatan keluarga, Anda bisa melindungi mereka dengan asuransi kesehatan, baik dari BPJS maupun asuransi kesehatan swasta. Seperti diketahui, perlindungan yang diberikan oleh asuransi BPJS saat ini masih terbatas. BPJS tidak menyediakan UP, hanya bisa memberi manfaat pengobatan satu penyakit per satu kejadian, belum semua rumah sakit bekerjasama dengan BPJS, prosedur yang panjang, serta pelayanan medis yang terbatas.

Maka, jika Anda ingin keluarga memperoleh manfaat yang lebih maksimal, Anda bisa melengkapi asuransi BPJS dengan membeli asuransi kesehatan swasta yang bisa disesuaikan dengan kemampuan. Saat ini, Anda bisa memperoleh asuransi kesehatan dan jiwa online dengan premi terjangkau. Contohnya, di ilovelife.co.id, Anda bisa memperoleh asuransi jiwa Siap JiwaKu dengan premi mulai Rp27.000 per bulan. Anda juga bisa memperoleh asuransi kesehatan Siap SehatKu dengan premi mulai Rp45.000 per bulan. Memiliki satu polis asuransi kesehatan yang meliputi seluruh anggota keluarga juga akan membuat premi lebih terjangkau.

Baca juga: 6 Hal Ini Akan Memengaruhi Premi Asuransi Jiwa Anda

5. Bantu orangtua mengelola keuangan

Ada banyak pula orangtua yang tidak terlalu tergantung pada anaknya karena mereka memiliki uang pensiun dari perusahaan tempat mereka bekerja dahulu atau karena mereka memiliki aset yang cukup untuk dinikmati di hari tua. Nah, jika Anda kebetulan memiliki orangtua semacam ini, Anda bisa membantu mereka dalam mengelola keuangan. Anda juga bisa memperkenalkan kepada mereka produk-produk keuangan dan membantu mereka mengembangkan dana yang mereka miliki secara optimal.

Selain itu, Anda juga bisa membantu orangtua yang mapan secara finansial dengan cara menanggung biaya tidak rutin seperti biaya liburan, biaya syukuran ulang tahun, Pajak Bumi dan Bangunan, atau biaya-biaya yang tidak signifikan seperti biaya listrik, biaya air, biaya langganan pay TV, atau biaya telepon. “Dengan bantuan-bantuan seperti ini, meski tidak signifikan, pasti orangtua senang mendapat dukungan dari kita,” terang Tejasari.

Baca juga: Intip Komunikasi dan Perencanaan Keuangan yang baik saat Gaji Istri Lebih Besar

6. Koordinasi dengan saudara kandung

Jika Anda bukan anak tunggal, maka Anda dapat berkoordinasi dengan saudara kandung lain dalam merawat dan menanggung kehidupan orangtua. Lagi-lagi, hal ini harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. “Misalnya, anak yang penghasilannya bagus dapat menanggung asuransi kesehatan orangtua. Sementara anak yang penghasilannya sedang, dapat menanggung biaya yang lebih kecil,” papar Tejasari.

Dengan strategi di atas, semoga kini Anda bisa mengatur keuangan untuk keluarga dan untuk orangtua dengan lebih cermat. #AyoLoveLife dengan merencanakan keuangan dengan matang.




« | »
Read previous post:
chairul
Bangun Kampung Kue, Chairul Bantu Berdayakan Perempuan

Kesibukan sudah menyergap kawasan padat hunian di Rungkut Lhor, Kecamatan Rungkut, Surabaya Timur, Jawa Timur, bahkan sebelum matahari terbit. Beberapa...

Close