Bukti Nyata, Pikiran Positif dapat Mengalahkan Kanker Payudara

Ninneta

Berpikir positif langsung ditanamkan dalam benak Jeanette Jacobus sejak awal dinyatakan mengidap kanker payudara di usia 20 tahun. Jeanette bahkan tidak menangis begitu mengetahuinya, ia hanya mau sembuh.

Sebelas tahun berlalu, prinsip ini terus dipegang Jeanette dalam berjuang melawan kanker. Berpikir positif mampu menguatkan semangatnya untuk hidup lebih baik. Bahkan Jeanette juga semangat untuk menjadi seseorang yang berguna bagi orang-orang sekitarnya.

Hasil penelitian Mayo Clinic, sebuah organisasi non-profit yang bergerak di bidang kesehatan dan pusat kelompok peneliti medis di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa berpikir positif dapat membuat seseorang cenderung optimis memandang hidup. Penelitian yang dilakukan oleh Suzanne Sugerstrom sebagai peneliti psikologi positif mengamati pasien Mayo Clinic dari pola pikir dan tingkah lakunya. Ia laporkan bahwa pikiran positif biasanya diikuti dengan kepribadian yang optimis. Pada Maret 2014 hasil penelitian dipublikasikan dengan mengatakan bahwa berpikir positif berpengaruh terhadap kesehatan, proses penyembuhan penyakit, serta tingkat kesejahteraan.

“Saat berpikir positif, maka perbuatan juga mengikuti. Akhirnya saya merasa lebih bahagia dan tetap semangat,” ujar perempuan yang akrab disapa Nannette.

Pada pengalaman Nannette, pengaruh positif juga tampak pada semangatnya menjalani kemoterapi. Lebih dari 30 kemoterapi ia jalani selama ini. Terapi ini diakui Nannette sangat sakit dirasakan tubuh. Nafsu makannya turun drastis karena merasa mual hingga muntah. Kondisi ini ditambah dengan perubahan fisik seperti rambut yang rontok dan penampilan yang menurutnya tidak menarik.

Terus menjaga pikiran tetap positif, gaya hidupnya pun menjadi lebih positif. Ia mengkonsumsi lebih banyak makanan bergizi seperti sayuran, menghindari alkohol dan tembakau. Berbagai gaya hidup yang beresiko terhadap kanker payudara dihindarinya. Hal ini dilakukannya atas dasar menyayangi dirinya sendiri serta keluarga kecilnya.

“Saya bisa bangkit selain karena Tuhan juga karena anak perempuan semata wayang saya dan suami serta teman-teman,” tutur Nannette, 31 tahun.

Ia bersyukur prinsipnya untuk berpikir positif juga diikuti oleh seluruh keluarga dan teman-teman dekatnya. Nannette tidak pernah diperlakukan sebagai orang sakit dan dimanjakan dalam kesehariannya. Dengan demikian ia merasa tetap diperhatikan dan didukung penuh. Bahkan ia bangga dengan sikap anak perempuannya yang tidak menjauhinya.

“Bukan saya sendiri yang divonis kanker payudara, mendiang ibu saya juga. Dari situ keluarga saya terus memperlakukan saya layaknya orang normal,” ungkapnya.

10996160_10153014305218911_966911095846710614_n (1)
Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seseorang yang lebih baik, Nannette kemudian menjadi aktivis di komunitas Pink Shimmer Inc. Hal ini dilakukannya sebagai tanda syukur memiliki keluarga yang selalu setia mendukungnya. Maka ia ingin berbagi dengan para sesama pejuang kanker payudara yang tidak seberuntung dirinya. Nannette ingin menularkan prinsip berpikir positif dan berbagi kebersamaan sehingga tidak ada pikiran bahwa penderita kanker payudara itu sendirian.

Aksi nyatanya diwujudkan bersama Dinda Nawangwulan sebagai penggagas Pink Shimmer Inc dengan mengadakan kelas merias wajah bagi pejuang kanker payudara. Kegiatan ini diyakini dapat meningkatkan kepercayaan diri. Pasalnya pejuang kanker cepat mengalami perubahan fisik terutama di wajah dan kepala akibat kemoterapi.

Nannette bersama Pink Shimmer Inc juga aktif mengadakan perlombaan fotografi berkonsep. Seusai dirias, mereka difoto untuk kemudian hasilnya dipamerkan untuk dilelang. Hasil penjualannya digunakan untuk mendukung kegiatan berjuang melawan kanker payudara.

10801692_10152778654548911_2957411932712818933_n (1)
Ia pun tetap aktif di kegiatan sosial yang berfokus pada pendidikan anak dan kesejahteraan masyarakat seperti yang dilakukannya saat ini. Bekerjasama dengan Melanie Subono dalam sebuah lembaga sosial, Nannette mendistribusikan bantuan berupa buku untuk anak-anak di pedalaman Papua. Ia berharap suatu hari nanti impiannya mendirikan sebuah perpustakaan di setiap daerah di Papua bisa terwujud.

“Hal penting yang saya juga pegang adalah saya mendengarkan sinyal dari tubuh saya. Ketika harus kontrol ke dokter, ya saya ke dokter, jadwal kemo ya saya ikuti. Kalau badan fit, saya kerja lagi,” ucapnya.

Hal ini pun menjadi salah satu manfaat dari berpikir positif, yaitu hidup yang lebih terarah dengan mendisiplinkan diri melakukan prioritas hidup. Secara perlahan, manfaat berpikir positif tidak hanya dirasakan secara pribadi melainkan juga oleh orang-orang sekitar hingga lingkup yang lebih besar.

 




| »