Bangun Kampung Kue, Chairul Bantu Berdayakan Perempuan

chairul

Kesibukan sudah menyergap kawasan padat hunian di Rungkut Lhor, Kecamatan Rungkut, Surabaya Timur, Jawa Timur, bahkan sebelum matahari terbit. Beberapa ibu warga kampung tersebut telah giat beraktivitas jual beli. Yang didagangkan adalah aneka penganan tradisional alias jajan pasar. Dari kue putri ayu, nagasari, sampai donat, siap diambil para penjual untuk kemudian dijajakan di pasar besar di Surabaya, seperti Pasar Soponyono, Rungkut dan masih banyak lagi.

Pemandangan serupa berlangsung setiap hari, sejak 2009 lalu. Kegiatan membuat kue itu telah menjadi sumber penghasilan sebagian besar warga dan bahkan telah membantu meningkatkan ekonomi warga. Sebelumnya, Kampung Rungkut dilingkupi masalah pengangguran akibat banyak warganya di-PHK, lingkungan yang kumuh, gizi buruk, bahkan kasus demam berdarah.

Mengubah nasib warga kampung dengan modal 50 ribu rupiah

Adalah perempuan bernama Chairul Mahpuduah yang merasa terpanggil dengan kondisi tersebut. Ia melihat potensi warga yang memang sejak dulu sudah menjadi pemasok kue. “Ibu-ibu di sini sudah menjadi pembuat kue, secara turun-temurun, selama 30 tahun. Tapi kenapa cuma begitu-begitu saja hasilnya?” ucapnya seperti dikutip oleh National Geographic Indonesia.

Langkah Irul, begitu ia biasa disapa, membantu para warga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Prosesnya pun bukan sebulan dua bulan, melainkan bertahun-tahun. Usaha Irul dimulai sejak tahun 2005 dengan mengajak beberapa warga untuk memulai usaha kerajinan tangan. Sayang, usaha ini tidak bertahan lama. Perputaran uang dianggap terlalu lama. Irul pun kemudian menginisiasi berdirinya kelompok pengrajin kue.

Baca juga: Ragam Solusi untuk Dapatkan Modal Usaha Rumahan

Irul dan dua rekannya memulai usaha ini. Meski awalnya dipandang pesimis, inisiatif ini mendapat dukungan warga. Apalagi setelah dijalani, perputaran modal bisa lebih cepat. Tentangan muncul dari suami-suami yang melarang istri mereka membuat kue. Mereka merasa ‘dipermalukan’ karena merasa masih sanggup menafkahi keluarga.

Menghadapi hal itu Irul tidak kehilangan akal. “Untuk negosiasinya diikuti saja apa kemauan suami. Sampai mana suami bisa bertahan dengan beban ekonomi yang berat. Apalagi saat anak bertambah besar, pasti juga perlu biaya-biaya tambahan, untuk sekolah dan lainnya,” jelas Irul.

Urusan modal juga kerap menjadi sandungan. Irul pun akhirnya membangun unit simpan pinjam berskala kecil. Di awal, setiap orang hanya bisa urunan Rp50.000 untuk bisa menjalankan simpan pinjam ini. Dana awal yang terkumpul hanya Rp150.000 per kelompok. Meski sedikit, modal itu cukup dapat memutar roda usaha para warga.

Sedikit demi sedikit, usaha simpan pinjam ini ikut berkembang dan kini telah menjadi koperasi resmi. Anggotanya dari beberapa orang saja, kini telah berjumlah lebih dari 65 orang. Dari yang awalnya hanya bisa melayani Rp100 ribu sekarang sudah berkembang menjadi koperasi dengan modal mencapai Rp25 juta.

Tak hanya menyuplai kebutuhan kue di berbagai pasar, produk dari kampung yang sekarang mendapat julukan “Kampung Kue” ini sudah masuk ke jaringan ritel modern dan toko oleh-oleh. Selain itu, hampir setiap rumah tangga sudah membangun perusahaan-perusahaan kecil dan mendirikan usaha dagang.

Pelatihan-pelatihan dan pengembangan pasar tetap dilakukan agar Kampung Kue semakin eksis dan dikenal sebagai tujuan belanja jajanan pasar dan oleh-oleh khas Surabaya.

Pernah menjadi buruh dan dipenjara

Di balik suksesnya menggerakkan para ibu untuk berbisnis, Irul menyimpan cerita penuh perjuangan yang identik dengan hidupnya.

“Orang mungkin melihat saya hari ini. Tapi tak banyak orang tahu bagaimana saya memulai karir. Saya sudah melalui berbagai macam kegagalan. Ditangkap polisi, di-PHK, digusur satpol PP sudah saya alami,” ucapnya kepada IDN Times.

Baca juga: Perjuangan 4 Buruh Melepas Stigma, Menggapai Cita-Cita

Petualangan hidupnya bermula di tahun 1990. Saat itu Irul baru saja lulus SMK Pertanian dan memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Sang Ibu awalnya sempat menentang. Namun perempuan asal Kediri ini berhasil membulatkan tekad dan meluluhkan hati ibunya.

Berbekal ijazah SMK, ia diterima kerja di sebuah pabrik peralatan rumah tangga. Awal kariernya berjalan mulus tanpa masalah, bahkan ia diangkat menjadi perwakilan buruh pabrik. Posisi tersebut yang membuatnya menyadari berbagai kejanggalan terkait dengan hak-hak buruh perempuan yang tidak diabaikan. Seperti tidak ruang ganti pakaian khusus perempuan dan pemeriksaan untuk cuti haid.

Bersama 3 ribu buruh lainnya, Irul memperjuangkan hak-hak tersebut melalui demonstrasi ke tingkat pemerintah Kota Surabaya. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia malah ditangkap polisi dengan tuduhan sebagai provokator. Melewati berbagai interogasi dan menginap di bui, Irul baru dibebaskan setelah ribuan buruh lainnya melanjutkan mogok kerja demi menuntut pembebasannya.

Buntut dari demonstrasi yang dilakukannya adalah PHK. Tapi Irul tak lantas meratapi nasibnya karena harus kehilangan penghasilan. Matanya justru terbuka. Pada 1993 ia memilih untuk bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat yang memperjuangkan hak-hak buruh. Dari sinilah ia belajar tentang berbagai upaya advokasi. Namun ia masih menyimpan keinginan untuk membela hak teman-temannya yang dahulu bekerja di pabrik. Ia pun mengajukan gugatan perdata terhadap perusahaan tempatnya bekerja dulu. Gugatannya berhasil. Ia menang di tingkat kasasi dan bahkan mendapat uang ganti rugi.

Diganjar penghargaan

Setelah lama bergerak di bidang perburuhan, tahun 2001 ia memutuskan untuk banting stir. Agaknya ia menyadari bahwa permasalahan buruh tidak akan begitu saja hilang, selama warga menengah ke bawah belum menemukan cara untuk memberdayakan dirinya sendiri.

Irul percaya bahwa menjalankan bisnis sendiri adalah cara terbaik untuk menginspirasi perempuan lain untuk berkarya di lingkungannya.

Dengan membantu perempuan dan warga Rungkut melalui berbagai pelatihan dan mendorong mereka untuk membangun usahanya sendiri, ia pun melihat peningkatan kepercayaan diri dan perubahan positif dalam komunitasnya. Dia hidup dengan nasihat dari ibunya, yaitu “Selalu jujur dan membantu orang lain.”

Baca juga: Pengalaman Buruk Sebagai Buruh Migran Jadi Bekal Siti Badriyah Perjuangkan Nasib TKW

Usaha Irul mengorganisasi warga, khususnya ibu-ibu di kampung Rungkut pun mendapat apresiasi. Awal April lalu ia menjadi salah satu narasumber Facebook dalam program #SheMeansBusiness. Ia dinobatkan sebagai salah satu dari tiga perempuan wirausaha inspirasional, bersama Anantya Van Bronckhorst (Co Managing Director Girls in Tech Indonesia) dan Kania Annisa Anggiani (pemilik Chic&Darling).

“Saya senang dengan berbagai penghargaan itu, tapi yang paling membahagiakan tentu bisa bermanfaat bagi orang lain, itu lebih penting,” kata Irul.

Irul bisa jadi inspirasi untuk menjalani hidup dengan sebuah misi. Yuk, #ILoveLife dan jadikan hidup kita lebih bermakna untuk lingkungan di sekitar kita.




« | »
Read previous post:
Pray for Surabaya
Jangan Mau Jadi Buzzer Gratisan Bagi Teroris

Surabaya, 13 Mei 2018, pagi ini saat Fani sedang berada di kamar mendengar suara keras dari luar rumah. Tak lama ia...

Close