Serunya Bulan Madu di Australia dengan Mobil Karavan

Wisata_Karavan_2_Vennie_Mario

Di Australia, ada satu jenis wisata yang populer dilakukan turis saat musim panas. Wisata tersebut adalah berlibur dan berjalan-jalan ke daerah pantai atau gurun menggunakan mobil karavan atau wisata karavan. Itulah yang dilakukan suami-istri asal Indonesia, Vennie Melyani dan Mario Hendracia, kala berbulan madu pada pertengahan Mei lalu.

Sebagai pasangan yang hobi berplesiran, wisata karavan masuk daftar yang hukumnya wajib dilakukan bagi Vennie dan Mario. Satu di antara pertimbangan berwisata dengan karavan adalah mereka bisa menjelajah daerah yang luas dan tetap menghemat biaya akomodasi serta konsumsi.

Sebetulnya, plesir dengan karavan tidak cuma ada di Australia. Namun di Negeri Kangguru itu, letak kemudi mobilnya sama dengan di Indonesia yaitu posisi supir di kanan. “Kami juga merasa cukup paham dengan beberapa peraturan lalu lintas di Australia,” cerita Vennie.

Baca juga: 4 Ide Liburan Romantis di Indonesia

Untuk menjelajah Australia dengan tempat tinggal beroda itu, Vennie dan Mario harus terlebih dahulu mengurus surat izin mengemudi internasional. Setelah itu, mereka mencari vendor penyewaan karavan. Di Negeri Kangguru, ada beragam jenis penyewaan karavan, mulai dari murah hingga mahal, tergantung kapasitas dan fasilitas yang ditawarkan. Namun sebagian vendor mensyaratkan minimal sewa selama lima hari. Dengan minimal waktu yang ditentukan, Mario dan Vennie harus menyusun cermat rencana perjalanan.

“Rencana perjalanan harus dibuat jauh-jauh hari,” ujar Vennie. “Sebab, persediaan karavan cukup terbatas. Apalagi musim panas merupakan puncak wisata karavan.”

Setelah persiapan rampung, mereka pun berangkat. Selama lima hari, pasangan muda ini bertualang di Australia Utara. Rutenya, Darwin-Taman Nasional Litchfield-Taman Nasional Kakadu-Darwin. Lebih dari seribu kilometer mereka tempuh. Selama perjalanan, mereka bertemu petualang berkaravan lainnya. Mayoritas adalah turis lokal. “Kami satu-satunya orang Asia saat itu,” kata Vennie.

Selama berwisata, Vennie dan Mario saling berbagi tugas. Karena hanya Mario yang memiliki SIM internasional, dia bertugas mengendarai karavan. Sementara Vennie menyiapkan makanan, mengatur belanja, menyimpan bahan makanan, serta mencuci. Berbagai pengalaman baru pun mereka kecap. Mulai dari menyetir di negara asing, menghemat penggunaan bensin, berburu bahan makanan murah, hingga belajar membaca peta.

Screen_Shot_2015-10-16_at_6.38.27_AM

Pengalaman yang paling berkesan bagi mereka di antaranya soal serangga. Pada hari pertama, ribuan serangga datang menyerbu setelah matahari terbenam. Tidak hanya nyamuk, tapi juga serangga lainnya. Mereka nyaris menyerah karena terlalu larut tiba di lokasi istirahat dan harus masak di tengah gelap dalam serbuan serangga. “Rasanya benar-benar tidak sanggup untuk menyelesaikan sisa empat malam berikutnya,” kata Vennie.

Serbuan serangga di hari pertama menjadi pelajaran bagi mereka. Pada malam berikutnya, Mario dan Vennie telah bersiap. Mereka memastikan semua kegiatan mandi, masak, cuci dilakukan saat matahari masih bersinar. Begitu malam tiba, mereka sudah berada di dalam karavan menikmati jutaan bintang di angkasa tanpa batas.

Dalam perjalanan itu, Vennie dan Mario sempat melewati sebuah pantai. Bahkan berniat untuk berenang dan bermain air di sana. Tapi Australia Utara adalah kawasan yang rawan buaya liar. Siapa pun tidak boleh sembarangan lompat di pantai, sungai, ataupun danau. “Kami hampir dimarahi petugas saat mengatakan kami ingin karavan di tepi pantai sambil berenang di laut,” ujar Vennie.

Dengan alasan yang sama pula, Vennie dan Mario juga harus membawa sumber air di karavan. Hampir 30 liter mereka bawa untuk perjalanan lima hari berdua. “Hampir semua sumber air dikuasai hewan reptil raksasa,” kata perempuan 31 tahun itu.

Jika dihitung kasar, mereka mesti merogoh kocek sekitar 100 dolar Australia untuk biaya satu sewa karavan per malam, termasuk asuransi kendaraan dan bensin. Itu belum termasuk biaya makanan sekitar 10 dolar Australia per malam per orang. Mereka juga mengeluarkan Rp 3 juta untuk tiket pulang pergi Jakarta-Darwin.

Baca juga: Tiket Pesawat Sudah di Tangan, Dolar Naik, Ini Tips Liburannya

“Rasanya biayanya sama dengan biaya inap satu malam di hotel, tapi dengan bonus bisa berpindah-pindah tempat, pengalaman dan pemandangan alam yang tiada duanya,” tutur Vennie.

Merasakan keseruan berwisata dengan karavan, Mario dan Vennie berniat untuk mengulanginya. Namun dengan tujuan negara yang berbeda. Selandia Baru, Benua Eropa, maupun Amerika Serikat menjadi target mereka berikutnya.

Bagaimana dengan Anda, mau ikut mencoba keseruan bertualang dengan karavan?




« | »
Read previous post:
cetakan telur si kecil
Bekal Kreatif Penuh Cinta untuk Si Kecil

Untuk mencapai gaya hidup yang sehat dalam keluarga, Anda perlu memulainya dari rumah. Salah satu caranya adalah dengan memastikan anggota...

Close