Kisah Safrina, Penderita Cerebral Palsy yang Berjuang Meraih Mimpinya Lewat Pendidikan

Safrina_Rovasita__kerudung_hitam__bersama_murid_SLB_Yapenas_Yogyakarta

Anak-anak di Sekolah Luar Biasa (SLB) Yapenas Yogyakarta sibuk menggelar tikar di halaman. Sabtu pagi adalah waktunya makan bersama. Lontong sayur hangat sudah tersaji, tetapi anak-anak tak lekas menyantapnya. Ada yang berlarian kesana kemari dan ada pula yang berebut mainan.

Seorang guru perempuan susah payah berjalan menuju dua anak tuna grahita yang menangis. Ia membujuk keduanya dan mengajaknya bergabung dengan yang lain. Dengan suara keras terbata-bata, ia berbicara menenangkan semua anak agar segera duduk menikmati kudapan.

Safrina Rovasita (29) adalah seorang guru yang cakap mengendalikan anak berkebutuhan khusus. Selain sabar dan penyayang, Safrina cukup mengerti apa yang dirasakan anak didiknya.

Safrina terlahir dari pasangan Suprapto dan Masriyah dengan kondisi cerebral palsy (CP), cacat otak yang menyebabkan gangguan saraf motorik sehingga penderita kehilangan koordinasi gerakan otot badan. Karenanya, Safrina juga mengalami kesulitan dalam berbicara dan berjalan.

Meski demikian, Safrina sejak kecil memiliki keinginan belajar yang kuat melebihi anak berkebutuhan khusus seumurnya. Bahkan, prestasi sekolahnya terbilang di atas rata-rata. Cibiran dari anak sebaya tak membuat Safrina ciut semangat.

Ia bersekolah di SLB Kalibayem Yogyakarta. Beberapa guru sempat menganggapnya menderita keterbelakangan mental (idiot). Namun, Safrina membuktikan sebaliknya.

“Ibu membelikan buku kakak saya kelas 5, saya merengek minta buku kelas 3. Ibu saya membelikan buku paket, lalu saya membacanya sampai habis. Saya bisa memahami isinya,” katanya.

Gurunya pun baru tahu Safrina memiliki kecerdasan yang sama dengan anak lain meskipun menderita CP. Ia kemudian dipindah ke kelas khusus, di mana kurikulum pelajarannya hampir sama dengan sekolah umum.

Para guru SLB tak menduga Safrina lulus dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi di sekolahnya, yaitu di atas 44 atau rata-rata hampir 9 untuk lima mata pelajaran. Safrina ingin melanjutkan ke sekolah umum.

Ia mendaftar di sebuah SMP favorit di Yogyakarta, namun sebagai satu-satunya calon murid CP, ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan diskriminatif. Ia sadar, ternyata tidak semua sekolah favorit ramah bagi kaum difabel.

Safrina lalu mendaftar di SMP Megeri 2 Depok, Sleman. Kepala sekolah menerimanya dengan baik dan mengumumkan dalam upacara bendera bahwa Safrina diterima karena prestasinya, bukan rasa kasihan.

“Tak ada yang mengejek saya, tetapi hanya sedikit murid yang mau berteman. Saya satu-satunya murid CP di SMP itu,” ujarnya.

Keterbatasan fisik Safrina dianggap anak-anak lain merepotkan. Namun Safrina tak peduli dan tetap belajar giat sampai ia lulus dengan nilai memuaskan.

Ia kembali membidik sebuah SMA favorit, tetapi gagal masuk. Nilai Safrina hanya terpaut 0,08 dari batas nilai terendah (passing grade). Ia kemudian mendaftar di sekolah swasta SMA Gama, karena pertimbangan akses yang mudah dari rumah.

Dalam hal bergaul, lagi-lagi Safrina susah mendapat teman. Apalagi, ia dikenal sebagai anak yang pelit membagi jawaban saat ulangan dan tes. Karenanya, ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan saat jam istirahat.

Safrina bisa mengikuti pelajaran di SMA, bahkan nilai akademik hariannya pun bagus. Sayangnya, ia gagal di Ujian Akhir Nasional (UAN) karena kendala teknis. Safrina kesulitan mengisi lembar jawaban karena koordinasi motorik halus yang buruk – gerak tangannya tak terkendali.

“Tidak ada pendamping ujian yang membantu saya mengisikan jawaban pada lembar jawab seperti saat ujian di SLB dan SMP,” katanya.

Beruntung, Safrina diterima kuliah di Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tanpa tes seleksi, tetapi hanya berdasar nilai rapor SMA yang memuaskan. Ia kemudian mengikuti UAN lewat Kejar Paket C dan berhasil lulus.

Safrina menyelesaikan pendidikan sarjana dalam 3,5 tahun dengan IPK 3,25. Ia menjadi mahasiswa penyandang CP pertama yang berhasil lulus di UNY dan ketiga di Indonesia.

Safrina memang kesulitan menulis dengan tangan, tetapi ia bisa mengetik. Semua tugas kuliahnya dikerjakan dengan notebook. Ia juga rajin membaca, mendengarkan dosen, meminjam catatan teman, dan menyalinnya di komputer.

Di kampus, Safrina aktif dalam kelompok diskusi bersama teman kuliah. Namun, ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dengan berbagai cara, ia berusaha untuk menjadi mahasiswa yang aktif meskipun punya keterbatasan fisik.

“Saya juga aktif di himpunan mahasiswa jurusan dan kegiatan penelitian. Penelitian saya tentang penggunaan dongeng Braille pernah diterima Ditjen Dikti,” katanya.

Safrina sering memenangi kompetisi menulis. Ia pernah meraih juara 2 Lomba Karya Tulis Mahasiswa se-universitas dan juara 2 se-fakultas. Ia juga meraih juara 2 Lomba Menulis Kisah Nyata Merapi berdasarkan pengalamannya menjadi relawan saat erupsi 2010.

Untuk mengembangkan hobi menulis, ia bergabung Forum Lingkar Pena (FLP), sebuah komunitas penulis muda yang tersebar di Indonesia. Beberapa tulisan fiksinya juga menghiasi halaman surat kabar lokal di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Safrina_bersama_anak-anak_SLB_Yapenas_Yogyakarta.

Setelah lulus kuliah, Safrina melamar menjadi guru ke sejumlah SLB, tetapi banyak yang tidak memberikan jawaban. SLB Yapenas, sekolah milik Yayasan Perumahan Nasional. Safrina datang ke sekolah untuk melamar pekerjaan. Pimpinan sekolah akhirnya menerimanya menjadi guru di sana, satu-satunya guru berkebutuhan khusus di yayasan itu.

“Awalnya banyak yang meragukan kemampuan saya. Tetapi saya berusaha mengerjakan tugas dengan baik tanpa bantuan. Ini yang kemudian membuat mereka percaya bahwa saya bisa mengatasi anak-anak,” ujarnya.

Safrina saat ini mengajar kelas 3 yang sebagian besar muridnya penyandang tuna grahita. Ada juga yang penyandang CP seperti dirinya.

Kelebihan Safrina dibanding guru lain adalah kemampuannya beradaptasi dan memahami muridnya dengan cepat. Latar belakang akademis juga membantunya menemukan metode yang tepat bagi setiap anak didiknya.

“Setiap anak berkebutuhan khusus perlu pendekatan yang berbeda, termasuk cara mengajarnya yang membutuhkan kesabaran ekstra. Kita harus menjadi seperti orang tua mereka sendiri,” katanya.

Di sela waktunya mengajar, Safrina saat ini sedang menempuh pendidikan master di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengambil jurusan Bimbingan Konseling Islam. Di kampus itu, ia juga menjadi satu-satunya penyandang CP yang kuliah di pascasarjana.

Safrina ingin mengabdikan diri pada pendidikan anak berkebutuhan khusus yang selama ini masih menjadi ‘anak tiri’ di sekolah. Saat ini, masih banyak banyak sekolah yang tidak ramah dan diskriminatif terhadap anak difabel.

Selain kuliah pasca sarjana, menulis, dan mengajar di SLB, Safrina kini juga aktif menyuarakan hak-hak kaum berkebutuhan khusus. Ia bergabung dalam Wahana Keluarga Cerebral Palsy, tempat para penyandang CP berbagi informasi dan berkegiatan.

Safrina meraih dua penghargaan dari sebuah perusahaan dan media sebagai tokoh muda inspiratif. Namun, ia tak lekas bangga. Cita-cita Safrina belum tercapai, yaitu membuat sekolah ramah bagi semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus. Karena, pendidikan adalah hak semua anak.

Memiliki kekurangan, bukan berarti Anda harus berhenti mencintai hidup. Cerita Safrina membuktikan, bahwa mimpi besar dapat mengalahkan keterbatasan fisik.




« | »
Read previous post:
Screen_Shot_2016-02-01_at_4.19.35_PM
Membangun Mimpi Masa Kecil, Chris Lesmana Berhasil Jadi Desainer VW Terbaik

Pada April 2012, Volkswagen Up dinobatkan sebagai World Car of the Year 2012 pada New York International Auto Show. City...

Close