Heni Sri Sundani, Kisah Mantan TKW yang Menuai Berkah Lewat Sedekah Ilmu

heni_jaladara

Belum lama ini majalah Forbes merilis daftar anak muda berpengaruh di Asia. Salah satu dari 30 nama itu adalah Heni Sri Sundani (29), perempuan kelahiran Ciamis, Jawa Barat.

Heni bukan hanya anak muda yang tak lelah berjuang mewujudkan mimpi keluar dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan meskipun jalannya tak mudah. Namun, ia juga menjadi motor perubahan di lingkungannya melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Semangatnya timbul atas keyakinan atas ajaran Islam yang menyebutkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan. Selain itu, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka sendiri tidak berusaha mengubahnya (Surat Ar-Ra’d ayat 11).

Perjuangan panjang demi meraih pendidikan yang lebih baik

heni_jaladara4

Heni sendiri berasal dari keluarga buruh tani. Ia bercita-cita menjadi guru, walaupun keluarga tak sanggup membiayai sekolahnya. Di kampung-kampung di daerahnya, banyak anak perempuan yang terpaksa nikah dini karena himpitan ekonomi. Lulus dari SD, anak-anak perempuan dinikahkan, dan sudah melahirkan anak di usia 13 tahun. Kerap kali, di usia 14 atau 15 tahun, mereka sudah menjadi janda karena dicerai suaminya.

Hati kecilnya menjerit. Sungguh ia tidak ingin terjebak pada kondisi yang sepertinya sudah dimaklumi ini.

Ia merasa pendidikan merupakan jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Namun apa daya. Demi memperoleh pendidikan, ia harus menempuh jalan berliku. Jarak Sekolah Dasar yang jauh dari rumah, harus ia tempuh selama satu jam dengan berjalan kaki.

“Melewati jalanan tanah, menyusuri sawah, empang dan perkebunan karet yang gelap. Aku dan teman-teman biasa berangkat sekolah pukul 06.00 untuk sampai di sekolah pukul 07.00,” kenangnya.

Belum lagi, ia hanya memiliki sepasang seragam dan sepasang sepatu. Alhasil, ketika musim hujan datang ia harus menyimpan sepatunya ke dalam kantong plastik. Heni pun hanya bisa mengerjakan PR di malam hari, karena sepulang sekolah ia harus membantu ibunya bekerja terlebih dahulu.

Lulus SMP, Heni melanjutkan pendidikan ke SMK di kota, dengan uang tabungan beasiswa. Saat itu jumlahnya cuma cukup untuk mendaftar, membeli sepasang seragam, serta membiayai kos selama satu bulan. Karena hal ini ia harus rela menerima teguran sekolah berkali-kali karena belum mampu membeli baju olahraga, seragam batik, serta baju pramuka.

Selepas SMK, di usia 18 tahun, ia memutuskan untuk menjadi buruh migran di Hong Kong untuk membantu ekonomi keluarga di tahun 2005. Menjadi TKI bukan tujuannya, melainkan sarana untuk bisa bersekolah lebih tinggi. Ia rela menjadi asisten rumah tangga selama enam tahun demi cita-citanya itu.

Malangnya, ia pernah ditipu oleh perusahaan jasa TKI yang mempekerjakannya. Mereka hanya membayar separuh gaji dari yang disepakati. Toh, ini tak membuatnya putus asa. Di tahun-tahun pertama, ia sempatkan untuk kuliah program jarak jauh dan berhasil mengantongi ijazah diploma bidang informatika.

Baca juga: Perjuangan 4 Buruh Melepas Stigma, Menggapai Cita-cita

Kemudian, di sela pekerjaannya mengerjakan tugas domestik, ia mengambil program sarjana Entrepeneurial Management di Saint Mary University. Meski dikerjakan sambil bekerja, konsentrasinya tidak lantas buyar. Fokus pada tujuan, ia berhasil lulus dengan predikat cumlaude.

Ia juga rajin menulis untuk majalah berbahasa Indonesia di Hong Kong, mendirikan perpustakaan Abatasa untuk TKI, dan membantu rekan-rekannya belajar Kejar Paket A dan C. Hingga kini ia sudah menulis 17 judul buku, termasuk novel dan kumpulan puisi, dengan nama pena Jala Dara.

Salah satu buku kumpulan surat-surat keluh kesah para TKI di Hong Kong yang berjudul Surat Berdarah untuk Presiden menghantarkannya mengikuti Ubud’s Writers and Readers Festival di Bali pada 2011.

Merintis pendidikan anak petani miskin

jaladara2

Kepulangannya ke Ciamis usai mengikuti festival di Bali itu justru membuat Heni sedih. Kondisi desanya tak berubah, masih tertinggal seperti dulu. Jalanan masih tanah berbatu, tak ada taman bacaan di kampung, dan pernikahan anak masih marak.

Heni kemudian merintis perpustakaan pertama di kampungnya yang diperuntukkan bagi anak-anak, sekaligus menjadi guru bagi mereka. Sebanyak 3.000 buku yang ia beli dan kumpulkan di Hong Kong diboyongnya pulang untuk mengisi perpustakaan desa itu.

Heni kemudian menikah dengan Adita Ginantika. Seperti halnya Heni, sang suami memiliki kepedulian yang sama terhadap kaum papa. Setelah menikah, Heni ikut suaminya yang berdomisili di Bogor. Di sana, ia juga menemukan persoalan yang sama, kemiskinan yang menjerat masyarakat agraris yang mengorbankan anak-anaknya tidak bersekolah dan mendapatkan pendidikan layak. Masih banyak anak putus sekolah.

Heni melihat ironi di negeri ini, banyak anak yang ingin sekolah tetapi tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. Di lain pihak banyak anak mendapatkan kesempatan bersekolah dengan mudah tapi menyia-nyiakannya. Heni ingin menjadi jembatan antar ilmu pengetahuan dan anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk belajar.

“Kami sangat ingin membantu mereka mendapatkan hak kanak-kanaknya, bermain, bersekolah, dan memiliki cita-cita. Kami meyakini pendidikan merupakan pemutus mata rantai kemiskinan,” kata Heni.

Cita-cita Heni menjadi guru tercapai lewat gerakan Anak Petani Cerdas yang digagasnya. Heni bersama suaminya kemudian mengumpulkan dan mengajari anak-anak petani, anak buruh tani, anak miskin, dan anak putus sekolah, setiap Sabtu dan Minggu. Meski mereka belum mampu menyediakan dukungan materi, pasangan suami-istri ini bersedekah ilmu dengan cara mengajar anak-anak secara gratis.

Selain materi pelajaran sekolah, Heni juga mengajari anak-anak dengan life skill, terutama komputer dan Bahasa Inggris; buku, pustaka dan sastra; agropeneur junior; dan pelatihan pembentukan karakter anak.

Anak didiknya kini mencapai sekitar 1.000 orang, yang tersebar di tujuh kampung pra-sejahtera di Bogor. Melalui media sosial, ia bergerilya untuk menawarkan gerakan Anak Petani Cerdas kepada yang ingin bersedekah untuk pendidikan anak miskin. Ia juga mencarikan beasiswa untuk anak-anak yang terancam putus sekolah karena kesulitan biaya, dengan memanfaatkan pertemanan sesama buruh migran di luar negeri.

Bersama suaminya, Heni kini juga membina Pesantren Nurul Haramain di Cigombong yang sebagian besar santrinya adalah anak-anak petani miskin.

Menjadi motor perubahan sosial

jaladara3

Selain pendidikan, perempuan yang mendapat berbagai penghargaan sebagai tokoh muda inspiratif itu menjadi motor perubahan sosial masyarakat agraris untuk perlahan keluar dari kemiskinan melalui pembentukan komunitas AgroEdu Jampang yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesehatan masyarakat di kampung Jampang, Kahuripan, Sasak, Pondok, dan Lengkong Barang, di Bogor.

Salah satu programnya adalah meningkatkan interaksi petani lokal dengan masyarakat luar melalui wisata edukasi pertanian, seperti budidaya hidroponik, tanaman hortikultura organik, ikan hias, ikan konsumsi, kambing, sapi perah, dan jamur tiram, yang semuanya dikelola oleh masyarakat lokal. Heni juga membantu kelompok tani untuk memperoleh akses pinjaman modal usaha.

Dalam usaha perbaikan kesehatan, Heni dan suami juga melakukan penyuluhan, pembangunan sanitasi, pembuatan sumur bor, mengembangkan tanaman obat keluarga, pemeriksaan kesehatan gratis, posyandu, sunatan massal, dan membantu memberikan akses perawatan medis kepada mereka pengidap penyakit khusus yang membutuhkan operasi. Mereka juga memberikan santunan rutin bagi warga jompo yang tak mampu.

Dorongan spiritual

Dalam perjalanan hidupnya, Heni mengakui nilai-nilai spiritual sebagai pendorong dalam menggapai pendidikan tanpa pernah putus asa.

“Pendidikan adalah proses panjang yang akarnya pahit tetapi buahnya manis. Tetapi sepahit apapun perjuangan dan sesulit apapun rintangan, saya percaya pada janji Allah. Setelah kesulitan akan selalu datang kemudahan,” ujar Heni yang meraih Liputan 6 Award 2016 untuk kategori tokoh inspirasi pendidikan akhir Mei lalu.

Jiwa sosial Heni sangat dipengaruhi oleh cara ia memahami agama sejak kecil. Kakeknya pernah mengajarkan, seandainya harus memilih, lebih baik tidak bisa membaca Bahasa Inggris daripada tidak bisa “membaca” Al Quran.

“Saya pikir itu dulu excuse untuk mengesampingkan ilmu lain, tetapi saya baru mengerti bahwa agama adalah fondasi dari semua ilmu. Semakin saya mengenal agama dengan baik, maka dorongan untuk mengamalkan ilmu yang saya pelajari akan semakin besar,” kata Heni.

Sedekah ilmu dan harta tak akan pernah rugi. Justru Heni meyakini keberkahan rizkinya akan semakin berlipat ganda dengan beramal untuk sesama, seperti janji Allah dalam Al Quran yang menyebutkan balasan bagi orang-orang yang bersedekah – bahwa sedekah ibarat sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai memiliki seratus butir biji.

“Ilmu yang dibagi tak akan berkurang dan harta yang disedekahkan tak akan hilang,” ujar Heni.

Mimpi Heni tertinggi adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Ia mengaku merasakan kebahagiaan luar biasa ketika bisa berbagi dan membantu orang yang membutuhkan.

“Ketika kami diberi kelebihan nikmat dan rezeki, Allah bukan sedang memerintahkan kami untuk menghabiskan lebih banyak atau melebihkan gaya hidup kami. Melainkan, itu tanda bahwa kami harus berbagi dan membantu sesama lebih banyak lagi,” ujar Heni.

Baca Kisah Inspiratif Lainnya di Sini.




« | »
Read previous post:
tunjangan hari raya yang dinanti setiap lebaran tiba
Tunjangan Hari Raya Belum Terlihat Hilalnya? Yuk, Pelajari Dulu Fakta-faktanya!

Lebaran adalah momen yang paling dinantikan, tidak hanya oleh kaum muslim tetapi semua orang. Kesemarakan menyambut Lebaran, dirasakan oleh hampir...

Close