3 Cerita Pemenang 7JamBarengBokap untuk Wujudkan Mimpi Sang Ayah

momen bareng bokap

Momen Bareng Bokap adalah aktivitas yang dilakukan Astra Life untuk menjembatani keinginan anak yang ingin mengapresiasi kasih dan kerja keras sang ayah. Tahun lalu, acara ini berhasil membantu 3 orang anak; Mira Handayani dari Jakarta, Lily Chairani dari Medan, dan Sarah Qodriyani dari Surabaya.

Mereka punya keinginan dan cara sendiri untuk membahagiakan ayahnya masing-masing. Dan Astra Life membantu mewujudkan mimpi mereka lewat Momen Bareng Bokap. Berikut ini, kisah mereka.

JAKARTA

Usia Sumijono boleh saja masuk kepala 7. Tapi untuk urusan bekerja, semangatnya masih menggebu. Predikat pensiun pun tidak membuat etos kerjanya menyurut. Dia tengah merintis usaha Kantor Akuntan Publik. Semangat itu pula yang selalu menjadi sumber inspirasi anak Sumijono, Mira Handayani, 34 tahun.

“Kemarin usahanya sempat bermasalah. Saya pikir papa akan menyerah dengan kondisi itu. Tapi ternyata dia mau bangkit lagi,” kata Mira soal semangat ayahnya.

Di antara anak-anaknya, Mira memiliki pekerjaan yang bersinggungan dengan profesi Sumijono. Mira tengah merintis karier sebagai akuntan. Wanita berusia 34 tahun ini pun kerap menjadi teman diskusi Sumijono. Tak heran jika Mira diharapkan meneruskan usaha Kantor Akuntan Publik milik ayahnya. Sayangnya, Mira saat ini belum mampu mengabulkan keinginan ayahnya tersebut.

Sebagai gantinya, Mira berharap mewujudkan impian ayahnya yang lain. Dia ingin membelikan ayahnya komputer jinjing. Sebab, ayahnya masih bekerja menggunakan komputer PC. Kendala tersebut membuat mobilitas Sumijono saat mengaudit terbatasi. Tak jarang pula Sumijono meminjam komputer dari rekanannya. “Ya walaupun saya belum bisa bantu langsung, setidaknya saya bisa sumbangsih lah buat papa,” kata Mira.

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Simak video ini.

MEDAN

Cinta orangtua kepada anaknya tanpa pamrih. Tak heran jika orangtua terkadang enggan menjawab saat ditanya anak mereka hadiah apa yang diinginkan. Begitu pula yang terjadi pada ayah Lily Chairani, Abdul Khairi. Tiap ditanya ingin hadiah apa, Abdul menolak menjawab.

Hubungan Lily dan Abdul sangat dekat. Di pagi hari, Abdul acap kali membangunkan anaknya untuk salat Subuh. Adapun pada malam hari, Abdul selalu mengingatkan Lily agar tidak telat makan.

Jika Lily terlambat pulang, kecemasan menghinggapi Abdul. Kenapa belum pulang, ke mana perginya, sama siapa, dan jam berapa pulang. Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di pikiran Abdul. Hanya jawaban dari Lily yang bisa meluruhkan kecemasan tersebut.

Kasih sayang Abdul dan Lily pun berlangsung dua arah. Lily selalu ada untuk menjaga dan merawat ayahnya. Saban Kamis sore, wanita berusia 32 tahun ini menggunting kuku ayahnya. Rutinitas tersebut terus dilakukan hingga saat ini. Namun, Lily merasa ada yang kurang dari apa yang sudah dilakukan untuk ayahnya. Dia ingin memberangkatkan ayahnya umrah.

Cek video ini untuk tahu ceritanya lebih lanjut!

SURABAYA

Sarah Qodriyani, 21 tahun, merasa belum bisa melakukan banyak hal untuk ayahnya, Engkos Perkasa, 60 tahun. Waktu berkualitas yang dimiliki Sarah bersama ayahnya masih kurang. Dia pun sering tak merespons ajakan ayahnya untuk bergurau. Dia jarang menghubungi ayahnya saat kuliah di kota rantau. Bahkan, saat di rumah ketika libur kuliah, Sarah lebih sering berada di kamar menyendiri, ketimbang ngobrol dengan ayahnya.

Segala kekurangan tersebut membuat Sarah ingin meminta maaf kepada ayahnya. Akan tetapi, meminta maaf bukan hal yang mudah bagi Sarah. Sebab, ayahnya termasuk sosok yang kaku. Seumur hidup, Sarah dilarang menyalimi tangan ayahnya. Setiap kali diberi hadiah kejutan, Engkos merasa risih.

Karena itu, Sarah ingin meminta maaf dengan cara lain yaitu mewujudkan impian ayahnya. “Suatu hari papa bilang., ‘Papa sebenarnya tuh udah lama ingin bikin galeri yang lebih bagus. Bengkel gitar yang bagus’,” kata Sarah.

Engkos bekerja di sebuah bengkel gitar. Namun, jarak bengkel gitar dari rumahnya sangat jauh. Dia harus menggunakan sepeda untuk sampai ke bengkel gitar. Sampai suatu siang, pembuluh darah matanya pecah. Itu membuat Engkos bermimpi memiliki bengkel gitar di lantai 2 rumahnya. Bukan sekadar bengkel gitar biasa, tetapi bengkel berkonsep wild-wild west.

“Aku tuh mikir gimana sih caranya membahagiakan bapak. Mungkin salah satu caranya tuh bikinin bengkel gitar di tempat yang lebih dekat,” kata Sarah.

Berhasilkah Sarah mewujudkan mimpi sang Ayah? Simak ceritanya di sini.

 




« | »
Read previous post:
article_kado-loli_201720171221-03
Saatnya Berbagi Kebahagiaan, Saatnya Berikan Kado Love Life

Di bulan Desember ini, umat Kristiani akan merayakan Natal. Kemudian dalam hitungan minggu, kita juga akan tiba di penghujung tahun 2017....

Close